NewsLetter Kesuburan

Powered By Yahoo! Groups

NewsLetter ASI

Powered By Google Groups

Ketika Pasangan Sulit Dapatkan Keturunan, Keluarga Besar Perlu Berikan Dukungan Moral

Sebuah pernikahan akan sempurna jika telah dilengkapi oleh kelahiran anak. Namun tidak semua pasangan mudah memperoleh keturunan. Hal tersebut tak jarang menjadi beban psikologis, terutama bagi perempuan, ketika orang tua atu kerabat terus-menerus bertanya tentang anak. Menyikapi masalah ini, keluarga besar perlu memberikan perhatian dan dukungan moral agar pasangan tersebut tidak berkecil hati.

Seperti yang dialami oleh Triana, 35 tahun, yagn belum juga dikaruniai keturunan pada usia pernikahannya yang sudah memasuki tahun kedelapan. Ia mengungkapkan bahwa lima tahun pertama pernikahannya adalah masa yang cukup berat. Persoalan anak kerap membuat ia merasa tertekan karena ibu serta mertuanya selalu membahas hal tersebut.

Di awal pernikahan, ia mengaku sempat menunda untuk memiliki anak selama setahun. Alasannya karena faktor pekerjaan yang begitu menyita waktu, serta ekonomi yang saat itu dianggapnya belum mapan. “Namun, saya menyesali keputusan itu setelah memasuki tahun ketiga pernikana ternyata saya belum juga bisa hamil”, akunya.

Triana yang bekerja di salah satu bank di Jakarta tersebut mengaku merasa sangat bersalah pada suaminya, meskipun keputusan penundaan untuk hamil adalah hasil kesepakatan bersama sang suami. Namun ia bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung ketika tekanan  itu datang dari keluarga.

Hal senada juga dialami Diandra (32). Lima tahun pernikahannya dengan Bagas (56) belum juga dikaruniai keturunan. Beban psikologis sering dialami manakala keluarga besar bertanya tentang dirinya yang hingga kini belum dikaruniai buah hati.

Jangan Salahkan Diri Sendiri

Psikolog Erna Marina Kusuma mengungkapkan, perempuan memang cenderung menyalahkan dirinya sendiri ketika pernikahannya belum juga dikaruniai keturunan. Mereka seringkali merasa belum menjadi istri yang sempurna jika belum mampu hamil dan melahirkan seorang bayi.

Di samping itu, perempuan cenderung akan lebih dulu dituduh sebagai penyebab kemandulan ketimbang pria.  Jika terdapat pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun menikah namun belum juga memiliki anak, biasanya yang pertama kali disalahkan adalah sang istri. Padahal banyak faktor yang menjadi penyebab pasutri belum mendapatkan keturunan.

Selain perasaan bersalah, perempuan yang belum memiliki keturunan seringkali mengalami perasaan khawatir yang berlebihan terhadap suami. Kekhawatiran yang muncul dari perempuan umumnya adalah bahwa suami akan meninggalkan mereka jika mereka tidak juga memiliki anak. “Karena merasa takut, jadi mulai sering negative thinking, merasa tidak percaya pada suami. Akhirnya justru jadi pemicu cekcok rumah tangga antara suami-istri. Inilah yang perlu diwaspadai,” jelasnya.

Ketakutan paling besar dari perempuan yang menghadapi persoalan semacam ini adalah jika pernikahan harus berakhir karena orang tua suami mencarikan pasangan lain untuk anaknya. Munculnya prasangka-prasangka seperti itu, biasaya akan menyebabkan hubungan istri dengan keluarga, terutama mertua, menjadi renggang.

Jaga Sikap dengan Mertua

Desakan untuk segera memiliki anak akan semakin tinggi jika seorang perempuan menikah dengan anak laki-laki yang merupakan anak tunggal dalam keluarga. Selain itu, jika suami mereka berasal dari suku tertentu yang menganggap bahwa anak adalah sebuah keharusan dalam pernikahan. Desakan akan datang tidak hanya dari keluarga, namun juga kerabat dalam lingkup suku tersebut.

Pada umumnya desakan akan muncul ketika usia pernikahan sudah memasuki tahun kedua atau ketiga. “Bentuk desakan dapat bermacam-macam, mulai dari yang halus seperti pertanyaan-pertanyaan, hingga desakan-desakan berupa upaya konkret dengan mencarikan pengobatan,” tuturnya.

Saran mertua yang seringkali meminta untuk memeriksakan diri ke dokter, desakan untuk tidak terlalu sibuk bekerja di luar, atau bahkan meminta mereka untuk berhenti bekerja, dapat membuat seorang perempuan merasa tertekan. Jika tidak bisa mengatur dan mengendalikan emosi, desakan tersebut akan mempengaruhi cara bersikap. Dimana reaksi yang muncul cenderung negatif.

Potensi terjadinya konflik biasanya akan lebih tinggi ketika desakan tersebut datang dari mertua. Ucapan-ucapan dari mertua yang sebetulnya hal biasa seperti, “Coba kamu periksa lagi ke pengobatan alternatif itu” dapat dipersepsikan negatif dari menantu yang mungkin merasa bosan mendengarkan hal yang sama, bisa ditanggapi keliru oleh mertua.

“Karena itu harus hati hati menjaga hubungan dengan mertua. Jangan sampai saran yang mereka sampaikan justru menimbulkan gesekan. Karena benturan yang sering terjadi adalah ketika menanggapi saran-saran itu,” jelas Erna.

Tanggapi Positif Desakan Memiliki Anak

Tekanan yang paling berpengaruh bagi perempuan yang belum juga memiliki keturunan, menurut Erna, justru datang dari dirinya sendiri. Karena itu ia menekankan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah pola pikir mengenai keinginan memiliki anak menjadi lebih positif. Salah satunya dengan berpikir bahwa anak adalah titipan dan amanah dari Tuhan. Jangan menyalahkan diri sendiri ketika Tuhan belum menitipkan anak.

Pasangan, terutama yang telah lebih dari dua tahun menikah namun belum juga memilik anak, cenderung akan menekan dirinya sendiri. Reaksi-reaksi negatif yang mereka tunjukkan akan menyebabkan mereka stress. Padahal stress justru dapat menghambat perempuan memiliki keturunan. Perempuan yang gelisah di masa subur cenderung lebih sulit dibuahi dibandingkan perempuan yang tidak banyak pikiran.

Erna mengungkapkan pengalamannya ketika menangani perempuan yang sudah hampir sepuluh tahun menikah namun belum juga memiliki keturunan. Pasien tersebut begitu menekan dirinya sendiri, hingga pada akhirnya mengalami stress. Setelah ia memandang ringan, bersikap lebih tenang dan gembira, justru tak lama kemudian ia kemudian hamil sehingga akhirnya memiliki anak yang sudah lama diimpikan.”

Kehadiran seroang anak dalam pernikahan tidak hanya ditentukan oleh perempuan. Karena itu, perempuan perlu membangun kerjasama yang baik dengan suami bagaimana menghadapi tekanan tersebut. Hilangkan perasaan khawatir berlebihan dengan memberikan kepercayaan kepada suami. “Jika suami mengatakan bisa menerima keadaan tersebut, jangan lantas berpikir bahwa hal tersebut hanya untuk menyenangkan hati kita,” ujarnya. Percayalah, suami tulus mengatakan hal itu dan tetap menyayangi kita sebagai pendamping hidupnya yang selalu mendapat tempat istimewa di hatinya.

Pandanglah Sebagai Bentuk Perhatian

Perselisihan dengan anggota keluarga, seperti dengan orang tua, mertua, terutama suami, sedapat mungkin dihindari. Salah satu caranya, membicarkan persoalan dengan baik dan membuat kesepakatan dengan suami bagaimana menghadapi tekanan keluarga.

Jangan memberikan reaksi negatif terhadap apapun yang berkaitan dengan persoalan memiliki keturunan. Berikan respons positif ketika orangtua atau kerabat, atau bahkan tetangga, terus menerus bertanya mengenai anak, pandanglah hal tersebut sebagai bentuk perhatian dari mereka. Saran-saran yang disampaikan mertua juga jangan diartikan bahwa ia tidak menyukai kita. Jusru sebaliknya, berpikirlah bahwa saran tersebut adalah bentuk dukungan.

Bersikap optimis, aliri diri dengan energi positif, dengan tetap berusaha melakukan upaya untuk memiliki keturunan, serta tidak lupa selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, agar diberi kesabaran dan ikhlas dalam masa penantian tersebut.

Orang Tua Tidak Menyudutkan Anak

Erna juga berpesan kepada orangtua atau keluarga agar tidak menyudutkan anak-anak mereka yang telah menikah namun belum juga memiliki keturunan. Berikan mereka dukungan tulus, bukan desakan. Hindari kata-kata yang membandingkan dengan pasangan lain, karena hal tersebut dapat menyinggung mereka. Selain itu, berikaplah adil dan tidak menyalahkan salah satu pihak, karena kesalahan tersebut belum tentu dari pihak perempuan. “Karena semakin tinggi tekanan, justru akan membuat perempuan semakin stress, yang berakibat pada gangguan hormon.”

Hubungan antara stess dan peluang terjadinya pembuahan di masa subur ini telah dibuktikan dalam peneilitan Oxford University. Pada perempuan dengan banyak pikiran, peluang untuk terjadinya kehamilan turun sebesar 12%. Penelitian tersebut melibatkan 274 perempuan berusia 18-24 tahun yang sedang berusaha hamil.

Berdasarkan pemeriksaan air ludah, peneliti menemukan bahwa perempuan yang pada masa subur memiliki kadar enzim alfamilase paling tinggi punya peluang 12 persen lebih kecil untuk dibuahi. Enzim tersebut merupakan indikator tingkat adrenalin, yang meningkat saat sedang mengalami kegelisahan.

Sementara dr. Dewi Anggraeni mengatakan, kasus sulit mendapatkan keturunan seperti Triana dan Diandra banyak terjadi. Pasangan dikatakan tidak subur jika pasangan sudah rutin melakukan hubungan intim dengan baik 2-3 kali dalam seminggu tanpa memakai alat kontrasepsi selama setahun tapi belum juga terjadi kehamilan.

Kesulitan mendapatkan keturunan tidak terlepas dari faktor-faktor yang terjadi pada pasangan tersebut, baik istri maupun suami. Ketidaksuburan tidak hanya terjadi pada istri, tetapi bisa pula pada suami. “Gangguan kesuburan, 40% disebabkan oleh faktor suami, 40% faktor istri dan 20% faktor yang tidak diketahui penyebabnya,” jelas Dewi.

Faktor usia juga turut mempengaruhi kesuburan. Semakin tua usia, semakin kecil peluang perempuan untuk bisa hamil. “Perempuan usia 19-26 memiliki kemungkinan hamil 2x lebih besar dibandingkan usia 35-39 tahun, begitu juga dengan laki-laki. Semakin tua, kualitas sperma akan menurun, sekalipun tetap bisa membuahi.”

Bagi pasangan yang mempunyai riwayat penyakit metabolik seperti kencing manis sebaiknya juga waspada. Pasalnya penyakit ini dapat berpengaruh terhadap kesuburan seseorang. Kencing manis dapat menyebabkan terhambatnya pembentukan sel telur pada perempuan dan impotensi pada laki-laki.

Gaya hidup, lingkungan serta depresi juga turut mempengaruhi terjadinya ketidaksuburan perempuan. Beberapa zat polutan memiliki kaitan yang erat dengan tingginya kejadian ketidaksuburan terutama bagi perempuan yang tinggal di perkotaan. Sudah banyak penelitian yang melaporkan bahwa stres sangat terkait erat dengan produksi corticotropin realising hormone (CRH) dari hipotalamus. Hormon ini memberikan pengaruh buruk terhadap produksi hormon reproduksi.

Poal hidup sehat harus dilakukan, hindari rokok, narkoba dan alkohol karena ketiga zat ini besar perannya dalam menurunkan kesuburan. Sedangkan kecukupan akan nutrisi dan zat gizi seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, antioksidan sangat diperlukan untuk pembentukan hormon reproduksi.

sumber : wishingbaby

You must be logged in to post a comment.