NewsLetter Kesuburan

Powered By Yahoo! Groups

NewsLetter ASI

Powered By Google Groups

Diet Sambil Menyusui

diet-dan-menyusuiRasanya menyenangkan sekali ya pada akhirnya bayi yang sudah ditunggu akhirnya lahir juga. Tapi oh tapi, kenapa orang masih suka menyangka masih hamil sih? Banyak dari kita mengeluhkan badan yang masih terlihat subur dan kurang oke setelah melahirkan, ingin sekali segera kembali ke bentuk badan semula. ’Ya, habis lihat deh artis-artis kok bisa kembali singset. Mereka pakai apa ya supaya bisa balik lagi ukuran badannnya?’ Atau mungkin melihat beberapa teman yang juga mudah kembali ke bentuk semula setelah melahirkan. ’Aduh bikin iri deh! Sebenarnya boleh tidak diet segera supaya kembali normal? Boleh olahraga? Bagaimana kalau minum obat pelangsing?’

Menyusui Menurunkan Berat Badan

Sebenarnya ada cara paling aman dan paling murah yang bisa dilakukan. Menyusui merupakan cara terbaik untuk mengurangi berat badan. Bahkan akan lebih mudah buat ibu yang menyusui untuk mengurangi lemak di badan terutama di area 3P (paha, pinggul dan pantat), ketimbang ibu yang tidak menyusui.

Kalau kita memberikan ASI pada bayi kita maka dalam jangka waktu 4-6 bulan berat badan dapat turun meski sangat perlahan. Jadi memang harus bersabar. Namun sayangnya, tidak semua berat badan ibu bisa turun meski sudah menyusui. Beberapa malah ada yang beratnya beranjak naik. Hmmm, mulai deh berpikir untuk diet. Tetapi di sisi lain, juga kawatir bahwa ada kemungkinan diet akan berpengaruh pada jumlah ASI padahal bayi kita masih sangat membutuhkannya.

Pengaruh Diet yang buruk

Perlu diketahui bahwa seberapapun jeleknya pola makan maupun asupan gizi ibu, tubuh tetap memproduksi ASI dengan kualitas yang baik untuk bayi. ASI yang diproduksi berasal dari persediaan makanan dalam tubuh ibu. Itulah sebabnya kenapa setelah menyusui kita merasa capek dan lemas. Sayangnya, lebih sering kita mengkonsumsi makanan dalam porsi yang banyak tanpa memperhatikan kandungan gizinya. Ini yang mungkin terjadi pada ibu yang cenderung naik berat badannya meski sedang menyusui. Atau malah menjadi malas makan. Hal ini pada jangka panjang dapat membuat ibu menderita anemia.

Penggunaan obat penurun berat badan yang dalam bentuk apapun tidak diperkenankan. Beberapa obat penurunan berat badan bahkan sering menjanjikan perubahan tubuh yang fantastis.

Apa yang terjadi jika berat badan ibu yang menyusui turun secara drastis?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bukan produksi ASI yang akan berubah. Pengaruh berat badan yang turun drastis justru pada kesehatan dan/atau asupan gizi ibu.

Diet terlalu ketat atau pola makan yang buruk dapat mempengaruhi perasaan ibu seperti perasaan lemas berlebihan, mudah lelah dan lesu. Gangguan tersebut kemudian akan mempengaruhi persediaan ASI dalam tubuh ibu dan refleks pengeluaran ASI (let-down reflex).

Makan teratur lebih baik

Cara yang benar dan aman untuk menurunkan berat badan tanpa harus kawatir tentunya dengan pola makan yang baik. Variasikan makanan yang masuk supaya kebutuhan gizi tetap terpenuhi. Lebih baik makan dalam jumlah sedikit tapi lebih sering. Sebaiknya membuat masakan yang mudah diolah sehingga dapat cepat tersaji. Jangan lupa untuk menyiapkan porsi-porsi kecil itu sebelum lapar datang.

Berikut merupakan makanan yang dianjurkan:

  • Makanan penambah energi bisa didapat dari nasi, sereal, roti gandum, pasta dan kentang
  • Segala jenis sayuran dan buah-buahan. Terutama buah segar, porsi kecil tapi sering sangat membantu mencegah kita makan cemilan yang mengandung kalori tinggi. Kita beruntung tinggal di negara tropis dengan segala jenis sayur dan buah yang mudah didapat serta harganya pun terjangkau.
  • Protein. Didapat dari daging sapi, ayam, telur dan ikan. Lebih baik lagi jika memperbanyak ikan yang mengandung omega-3.
  • Harap diingat susu bukan hal yang wajib. Beberapa bayi ternyata memiliki toleransi yang rendah terhadap susu sapi. Perolehan kalsium bisa didapat dari sayuran warna hijau (brokoli dan kangkung), ikan salmon, tahu dan tempe.
  • Jangan lupa perbanyak konsumsi cairan, terutama air mineral. Jus segar dan sup merupakan pilihan yang baik. Selalu sediakan botol minuman di sebelah kita ketika sedang menyusui.

Kafein dan Alkohol

Minuman beralkohol sebaiknya tidak dikonsumsi seperti pada massa kehamilan. Minuman beralkohol menghambat produksi hormon oksitosin, hormon yang melancarkan pengeluaran ASI. Penelitian juga menunjukkan bahwa alkohol memberikan aroma yang tajam pada ASI. Bayi kemungkinan besar akan menolak untuk menyusu.

Bagaimana dengan kafein? Aduh, rasanya kangen sekali untuk minum kopi, setelah ’puasa’ minum selama masa hamil. Sayangnya kita suka lupa bahwa kafein tidak hanyak berada dalam kopi. Teh, soda dan coklat juga mengandung kafein dalam jumlah yang berbeda-beda. Meski tidak dilarang, batasi jumlah konsumsinya. Bayi seperti juga orang dewasa akan merasakan hal yang sama bila terlalu banyak kafein. Merasa gugup berlebihan, mudah marah, bahkan sulit tidur. Lebih baik hentikan konsumsi kafein ketika bayi menjadi lebih rewel.

Namun, perlu diingat untuk menghindari konsumsi teh diet, karena mengandung kafein yang tinggi yang dapat menghambat produksi ASI.

Menyusui akibatkan Osteoporosis?

Ada anggapan bahwa menyusui menyebabkan osteoporosis. Pada kenyataannya tidaklah begitu. Saat menyusui ibu memang kehilangan massa tulang. Namun satu tahun setelah menyapih bayinya, massa tulang akan kembali sediakala. Tidak hanya itu, dari hasil penelitian menunjukkan bahwa resiko kerusakan tulang pada ibu yang tidak memberikan ASI 50% lebih besar dibanding dengan ibu yang memberikan ASI. Semakin lama menyusui maka resikonya akan semakin kecil. Kesimpulannya adalah menyusui berarti melindungi ibu dari kemungkinan osteoporosis.

Olahraga

Olahraga yang cukup juga sudah pasti mampu membantu untuk mengencangkan kembali otot-otot dan memadatkan massa tulang. Kalau tidak punya banyak waktu, ajaklah bayi jalan-jalan disekitar rumah. Terutama Ibu yang baru melahirkan keluar rumah sesekali dapat mengurangi stres. Jalan-jalan ke mall pun juga tidak dilarang. Berani menggendong bayi dibelakang punggung? Berat badannya bisa menjadi beban ekstra untuk membakar kalori. Bagaimana jika cuaca tidak mengijinkan seperti sekarang ini? Gendong bayi dengan selendang atau sling sambil mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu atau mengepel. Jika bayi sudah bisa berinteraksi, ajaklah menari. Pasti dia akan suka. Tidak perlu kawatir terlihat konyol, bukankah tidak ada yang melihat? Lagi pula bergerak sambil tertawa dengannya menyenangkan sekali bukan?

Jadi kesimpulan yang bisa diambil adalah diet khusus tidak diperlukan. Lebih baik mengkonsumsi makanan bergizi dengan porsi kecil tapi sering. Aktif bergerak dan ajak bayi ikut serta. Nikmati saja untuk terus menyusui sampai anak berusia dua tahun. Jika tetap ingin menjalankan diet menurunkan berat badan konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi. (AIMI)