NewsLetter Kesuburan

Powered By Yahoo! Groups

NewsLetter ASI

Powered By Google Groups

9 Mitos Kesuburan

Mencoba untuk hamil adalah cukup stress, apalagi orang disekitar anda baik orangtua, tetangga, rekan kerja dan keluarga sering menawarkan saran yang tidak diminta. Tentu mereka bermaksud baik, tetapi dengan begitu banyak informasi yang kadang kontradiksi, sulit memisahkan antara fakta dan mitos belaka. Saran mana yang terbaik? Baca terus untuk mengetahui faktor-faktor yang benar-benar berkontribusi untuk masalah infertilitas dalam rangka untuk meningkatkan peluang Anda dan pasangan.

Mitos # 1: Kesuburan seorang wanita mulai menurun pada 35

Menurut Shari Brasner, MD, Ob-gyn (Dokter Spesialis Kandungan) di Mount Sinai School of Medicine, puncak kesuburan seorang wanita lebih awal dari kebanyakan orang pikir; yakni pada usia antara 22 dan 26, dan mulai menurun setelah itu. Namun itu tak berarti bahwa para gadis remaja harus segera menikah pada usia tersebut, kata Karen Elizabeth Boyle, MD, spesialis kesuburan di Baltimore. Pada pasangan suami-istri, 75% dari wanita yang berusia 30 tahunan akan hamil dalam waktu setahun. Angka itu turun menjadi 66% pada usia 35 dan turun lagi 44% pada usia 40 tahun, kata Alice Domar, PhD, direktur Pusat Kesehatan Domar Mind Body di Boston.

Mitos # 2: Kehamilan hanya terjadi saat berhubungan seksual

Berpikir bahwa Anda hanya bisa hamil saat berhubungan seks? Percaya atau tidak, sperma seorang pria bisa bertahan selama tiga hari dalam saluran reproduksi wanita, kata Dr Boyle. Jadi, bahkan jika Anda tidak berovulasi saat sedang bergairah dan melakukan hubungan dengan pasangan Anda, sperma masih bisa membuahi sel telur jika Anda mulai ovulasi beberapa hari kemudian. Pada kenyataannya, waktu paling subur bagi wanita adalah saat ia akan berovulasi. Jadi berhubungan seks dalam beberapa hari menjelang ovulasi, selain ketika Anda benar-benar mengalami ovulasi, adalah penting untuk meningkatkan peluang Anda untuk hamil. Saat berusaha untuk hamil, timing (waktu yang tepat) adalah segalanya, karena wanita hanya berovulasi sebulan sekali. Saat sedang akan ovulasi dan pada saat ovulasi, tidak ada sperma hidup tersedia di dalam, Anda harus menungggu di bulan berikutnya.

Mitos # 3: Anda harus berhubungan seks setiap hari ketika Anda mencoba untuk hamil.

Anda berpikir bahwa semakin banyak hubungan seks yang anda lakukan, semakin besar kesempatan Anda untuk hamil. Namun itu terdengar melelahkan, bukan? Kenyataannya, tidak betul, kata Dr. Boyle. “Jika seorang pria dengan jumlah sperma normal berejakulasi setiap hari, atau beberapa kali sehari, itu benar-benar dapat mendorong jumlah sperma turun. Testis butuh waktu untuk memproduksi sperma yang baik dan berkualitas. Bila suami memiliki gairah yang tinggi setiap harinya, katakan padanya untuk memberi jeda dalam berhubungan (disarankan tiga hari sekali) agar testis dapat memproduksi sperma yang banyak, cukup kental dan juga berkualitas. Sebaiknya, berhubungan saat menjelang ovulasi dan saat ovulasi adalah yang saat yang paling tepat. Untuk membantu mengetahui kapan Anda akan berovulasi atau sedang berovulasi, ada alat bernama Fertile Focus untuk mendeteksinya.

Mitos #4: Lubrikan Tidak Mempengaruhi Kesuburan

Ini adalah perdebatan lama. Panas pasti mempengaruhi testis, dan setiap kegiatan yang meningkatkan suhu tubuh terlalu banyak dapat membunuh sperma dan menurunkan produksinya,” kata Dr Boyle. Celana bahan spandex masih oke karena tidak terlalu menaikkan temperatur di area testis. Jika anda sedang berusaha untuk hamil, hindari ber-sauna, mandi air panas, meletakkan laptop langsung di pangkuan. Meskipun dapat diperbaiki, namun butuh 3 sampai 4 bulan bagi sperma untuk pulih.

Mitos #5: Celana ketat dapat berdampak kesuburan seorang pria

Lubrikan (pelumas) diperlukan bagi pasangan yang mengalami kesulitan berhubungan seksual karena kurangnya/keringnya ledir (sehingga terasa sakit).  Namun banyak lubrikan di pasaran yang dapat mencegah sperma berenang maju, membuat mereka gagal mencapai rahim. Menurut Dr. Boyle dan Dr Brasner, Pre-Seed adalah lubrikan yang ramah terhadap sperma, aman dan tidak membunuh sperma, membuat momen bercinta untuk mendapatkan si buah Hati semakin menyenangkan.

Mitos #6: Stress Tidak Berdampak Pada Kesuburan

Stress sedikit adalah OK, tapi banyak dapat mendatangkan malapetaka pada seluruh tubuh Anda, termasuk kesuburan Anda. Stres berdampak pada hormon, metabolisme, suasana hati, gairah seks dan nafsu makan, sehingga hampir setiap aspek kehidupan. Tapi jangan khawatir:  Sebuah penelitian terbaru di jurnal Fertility and Sterility menemukan bahwa hal ini dapat diatasi dengan meditasi, yoga, dan olahraga yang anda sukai.

Mitos #7: Kesempatan terbaik Anda untuk hamil adalah pada hari 14 dari siklus Anda.

Tidak semua orang memiliki siklus 28 hari dengan ovulasi terjadi pas  di tengah-tengahnya. Jika Anda menganggap bahwa siklus Anda sangat teratur dan hanya berhubungan seks pada hari ke-14, Anda bisa kehilangan kesempatan, kata Dr Boyle. “Lupakan menandai hari puncak Anda benar-benar di hari ke-14. Mulai berhubungan seks 4-5 hari sebelum ovulasi—sampai tiga atau empat hari setelah ovulasi, “katanya. Ketahui kapan Anda sedang berovulasi, jangan biarkan kesempatan terlewatkan. Dr Boyle merekomendasikan alat monitor kesuburan yang bisa dilakukan di rumah.

Mitos #8: Pil KB dapat merusak kesuburan jangka panjang Anda.

Menurut survei National Center for Health Statistics, kontrasepsi oral (pil KB) adalah metode yang paling umum digunakan dalam mencegah kehamilan sebelum waktu yang diinginkan. Jadi tidak mengherankan banyak wanita khawatir tentang laporan bahwa pil KB dapat mempengaruhi peluang masa depan mereka untuk hamil. Meskipun pil KB tidak menekan ovulasi, namun memang ia berpengaruh pada hormon, namun sifatnya tidak permanen. Cara kerja pil KB untuk mencegah kehamilan adalah: Mencegah pematangan dan pelepasan sel telur, Mengentalkan lendir leher rahim, sehingga menghalangi penetrasi sperma, Membuat dinding rongga rahim tidak siap untuk menerima dan menghidupi hasil pembuahan. Saat  seorang wanita stop pil KB, tubuh akan membutuhkan waktu untuk menormalkan semuanya kembali. Suplemen kesuburan seperti FertilAid for Women dan FertileCM dapat membantu untuk mempercepat masa tunggu itu, agar semuanya normal kembali.

Mitos # 9: Berat Badan tidak ada hubungannya dengan kesuburan.

Menurut Dr Brasner, berat badan dapat sangat mempengaruhi peluang mereka untuk hamil. Beberapa studi telah mengaitkan obesitas dengan jumlah sperma rendah dan kualitas sperma yang buruk pada pria. Dan obesitas pada wanita merupakan faktor risiko untuk anovulasi (tidak adanya ovulasi). Satu studi yang diikuti 47.835 pasangan menemukan bahwa ketika kedua pasangan obesitas, kemungkinan mereka harus menunggu lebih dari satu tahun untuk hamil hampir tiga kali lebih tinggi daripada pasangan dengan indeks massa tubuh yang normal (BMI). Di sisi lain, menurut sebuah studi dalam jurnal Kemandulan dan Kesuburan, berat badan yang terlalu kurus (BMI 17,5 atau kurang) adalah terkait dengan resiko ketidaksuburan, 5 kali lebih banyak, karena wanita dengan lemak tubuh terlalu sedikit dapat menghentikan ovulasi dan / atau menstruasi sama sekali. Intinya: Berat badan ideal tidak hanya akan membuat Anda lebih sehat, tetapi juga akan meningkatkan kesempatan Anda untuk hamil. Tips: Bagi Anda yang terlalu kurus meskipun sudah makan banyak, coba cek pencernaan Anda ke dokter spesialis gastro. Bagi Anda yang terlalu gemuk, bisa mengikuti program penurunan berat badan sehat dengan cara membatasi asupan makanan berlemak atau berlebihan, dan rutin berolahraga.

sumber : wishingbaby

You must be logged in to post a comment.