Usefull links

Contact us

My Cart
Rp 0
My Cart
Rp 0
Blog
Asupan Gizi Ibu Menyusui

Asupan Gizi Ibu Menyusui Kurang

 

Kata orang, saat hamil ibu makan untuk dua orang, tapi setelah bayi lahir, seringkali ibu lupa bahwa sekarang juga harus tetap makan untuk dua orang.  You’re not done eating for two, mommy..

Dalam masa menyusui yang panjang, karena sibuk mengurus bayi dan rumah, belum lagi harus kembali bekerja, ditambah dengan urusan pengasuh anak yang kurang telaten, Ibu baru banyak yang kurang memperhatikan asupan  beragam makanan bergizi, akibatnya produksi ASI-nya turun atau kurang berkualitas. Namun, jangan buru-buru beralih ke susu formula, karena ASI adalah makanan yang dapat membuat bayi kita cerdas dan sehat, adalah sebuah investasi masa depan.

Gizi ibu menyusui penting untuk memulihkan kondisi pasca persalinan dan penting untuk produksi ASI.  Namun nyatanya asupan gizi selama menyusui masih terabaikan oleh mayoritas ibu. Dibandingkan saat hamil, fakta penelitian di Indonesia menyebutkan bahwa konsumsi energi ibu menyusui lebih rendah. Akibatnya, cadangan lemak ibu menyusui rendah. Hal itu berpengaruh terhadap produksi air susu ibu.

Hal tersebut disampaikan Sandra Fikawati, pengajar Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) saat mempertahankan disertasi ”Pengaruh Vegetarian dan Nonvegetarian terhadap Status Gizi Ibu, Durasi ASI Predominan, dan Pertumbuhan Bayi: Studi Kohort di 5 Kota” dalam sidang terbuka promosi doktor, Selasa (25/6), di Kampus UI Depok.

Fikawati meneliti ibu melahirkan vegetarian dan nonvegetarian di lima kota, Jakarta, Surabaya, Pontianak, Palembang, dan Pekanbaru, selama tiga tahun sejak 2009. Jumlah responden penelitian ada 42 pasang ibu-bayi vegetarian dan 43 pasang ibu-bayi nonvegetarian. Responden vegetarian yang diteliti ialah lakto-ovo vegetarian.

Fikawati memaparkan, konsumsi gizi makro ibu menyusui vegetarian dan nonvegetarian lebih rendah dibandingkan saat hamil. Konsumsi energi ibu menyusui vegetarian sebesar 1.850 kkal dan ibu nonvegetarian 2.100 kkal. Berdasarkan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kecukupan gizi ibu menyusui adalah 2.500 kkal.

”Ketika hamil, umumnya porsi makan ibu lebih banyak dari biasa karena mereka berpikir asupan itu untuk memenuhi kebutuhan ibu bersangkutan dan janinnya. Setelah melahirkan, saat menyusui asupan gizi ibu turun, lebih rendah dibanding saat hamil,” Fikawati menuturkan.

Konsumsi protein ibu vegetarian lebih rendah dibandingkan dengan ibu nonvegetarian, tetapi jumlahnya memenuhi rekomendasi kecukupan protein. Konsumsi karbohidrat juga cukup. Kekurangan terjadi pada asupan lemak. Akibatnya, produksi air susu ibu (ASI) kurang.

Fikawati menyatakan, baik ibu vegetarian maupun nonvegetarian bisa memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. Perilaku hidup sehat ditambah keinginan kuat memberikan ASI akan menjadi faktor berpengaruh terhadap cakupan ASI eksklusif ibu vegetarian.

Fikawati merekomendasikan Kementerian Kesehatan untuk mendorong program peningkatan gizi ibu menyusui melalui suplementasi gizi, konseling, informasi, dan edukasi.

Promotor disertasi Fikawati, Prof Kusharisupeni, menuturkan, disertasi Fikawati yang mendapat yudisium cum laude memberikan jawaban terhadap perilaku ibu menyusui yang berhenti menyusui karena merasa ASI-nya kurang. Padahal, ternyata asupan energi ibu tersebut yang masih di bawah jumlah yang direkomendasikan sehingga memengaruhi produksi ASI.

Dampak negatif jika konsumsi gizi tidak mencukupi:

– Berpengaruh terhadap status gizi dan kesehatan ibu
– Menyebabkan ASI yang dihasilkan sangat rendah kualitasnya

Kebutuhan Energi:

– Tambahan masukan energi bagi si-ibu pada 6 bulan pertama sebesar 1,13 x BMR bayi, atau kira-kira 700 kkal/hari.

– Tambahan masukan energi pada 6 bulan kedua dianjurkan rata-rata sebanyak 500 kkal/hari.

– Tambahan untuk tahun kedua dianjurkan tambahan sebanyak 400  kkal/hari.

Kebutuhan Protein:

Tambahan protein ekstra sebesar 16  g/hari untuk 6 bulan pertama, 12 g/hari untuk 6 bulan kedua dan untuk tahun kedua sebesar 11 g/hari.

Kebutuhan Zat Gizi Lain:

Zat besi: terdapat sebanyak 0,3 mg/hari dikeluarkan dalam bentuk ASI, maka jumlah ini perlu ditambahkan dalam “basal loss” maka rata-rata kebutuhan untuk 6 bulan pertama menyusui adalah 1,1  mg/hari sehingga memerlukan tambahan besi sebesar 5 mg tiap hari

Kalsium: diperlukan tambahan dalam jumlah yang cukup besar sebesar 400 mg, karena:  dalam proses produksi ASI, tubuh akan menjaga konsentrasi Kalsium dalam ASI relatif konstan, baik dalam kondisi intake kalsium cukup ataupun kurang. Jika intake Kalsium tidak mencukupi maka kebutuhan kalsium dalam produksi ASI akan diambil dari deposit yang ada pada tubuh ibu, termasuk dalam tulang.

Baca Juga : Cara Memperbanyak ASI

Gizi Ibu Menyusui

Faktor yang berpengaruh terhadap Kuantitas produksi ASI:

– Makanan ibu

– Ketentraman jiwa dan pikiran

– Pengaruh persalinan di rumah sakit atau klinik bersalin

– Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen atau progesteron

Mari kita bahas satu-per-satu:

Pengaruh Makanan terhadap kuantitas produksi ASI:

Konsumsi ibu menyusui tidak secara langsung  mempengaruhi mutu/jumlah ASI dlm tubuh ibu terdapat cadangan berbagai zat gizi yang  dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan.  ibu hamil menyimpan cadangan 4 kg sebagai cadangan untuk produksi ASI.  jika konsumsi ibu terus-menerus tidak mengandung cukup zat gizi dapatberakibat kelenjar pembuat air susu tidak dapat bekerja sempurna, dan berpengaruh juga terhadap produksi ASI. Defisit konsumsi zat gizi secara terus menerus akan terjadi konversi cadangan jaringan tubuh ibu menjadi ASI, mengakibatkan bentuk payudara menjadi berubah dan jaringan payudara jadi mengendor.

Ibu juga dianjurkan minum dalam jumlah cukup. The Institute of Medicine menyarankan konsumsi air pada ibu menyusui sebanyak 3,1 liter (13 gelas) setiap harinya. Saran umum adalah minum segelas air setiap kali makan dan setiap kali menyusu. Konversi zat gizi ibu untuk menjadi ASI  adalah 80- 90 %, berasal dari makanan ibu sehari-hari atau berasal dari cadangan jaringan tubuh. Selain air, makanan yang dikonsumsi sehari-hari harus memenuhi kecukupan gizi, dan bisa dibantu dengan suplemen postnatal seperti Nursing Blend.

Nursing Blend mengandung vitamin D yang penting bagi pembentukan gigi dan tulang bayi. Hal ini terutama sangat penting dalam tahun pertama saat bayi tumbuh dengan cepat. Vitamin B-6 dan B-12 mendukung banyak fungsi, termasuk sistim imunitas, sistim saraf, dan produksi sel darah merah dan darah putih. Ibu yang vegetarian beresiko kekurangan vitamin B-12 karena vitamin itu secara alami hanya ditemukan dalam daging atau produk hewani. Asam Folat (Folic Acid) juga penting sebagai asupan masa menyusui untuk mendukung produksi sel yang sehat. Nursing Blend juga memiliki kandungan zinc (seng) yang penting untuk imunitas dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan optimal.

Faktor lain yaitu Pengaruh ketenangan jiwa dan kemauan keras ibu serta dukungan keluarga penting untuk kelancaran produksi ASI. Kegelisahan, kurang percaya diri, rasa tertekan dan ketegangan emosional, maka produksi ASI menyusut.  Pengaruh emosi berpengaruh lebih menonjol dibandingkan kekurangan makanan ibu.  Ibu yang mengalami baby blues akan mengganggu let down reflex sehingga mengakibatkan ASI  tidak keluar.

Pengaruh perawatan saat persalinan juga menentukan keberhasilan menyusui ibu-ibu muda. mulai dipraktikkan rawat gabung (rooming in), yaitu bayi yang baru lahir ditempatkan dalam ruangan yang sama dengan ibunya. Tujuan rooming in: setiap saat ibu dapat mendengar tangis bayinya, sehingga tercipta hubungan yang erat antara ibu dan bayinya.  Adanya hubungan yang erat antara ibu dan bayinya dan adanya kesempatan untuk dapat menyusui bayinya akan menumbuhkan sikap yang positif pada diri ibu terhadap pemberian ASI.  Sikap positif pada diri ibu akan mempengaruhi reflek pancaran ASI (let down reflex).Kebiasaan pemberian susu formula perlu dihindarkan. jika bayi memerlukan tambahan makanan/minuman karena ASI  belum keluar atau produksinya belum mencukupi maka sebaiknya cukup diberi larutan glukosa 5 %. Pemberian glukosa 5 % akan menjaga selera bayi tetap pada ASI.

Faktor terakhir yang berpengaruh pemilihan alat kontrasepsi. Penggunaan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen dapat mengurangi jumlah produksi ASI, bahkan dapat menghentikan produksi ASI. Kotrasepsi yang hanya mengandung progesteron berupa suntikan tidak berpengaruh terhadap produksi ASI. Dari semua pilihan, kontrasepsi yang paling tepat adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau IUD.

AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oksitosin, yaitu hormon yang merangsang produksi ASI.

oleh: wishingbaby